Perempuan dalam Demokrasi: Masih Banyak Tantangan, Tapi Harapan Tetap Ada
Plh. Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Flores Timur Arifin Atanggae mengikuti Kegiatan Kopi Parmas Part 11 yang di selenggaraan KPU Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) secara daring bersama 22 KPU Kabupaten/Kota se-NTT. Kopi Parmas Part 11 menghadirkan dua narasumber, yaitu Ketua Divisi Perencanaan, Data dan Informasi KPU Kabupaten Sikka, La Hajimu, dan Ketua Divisi Sosdiklih Parmas KPU Kabupaten Timor Tengah Selatan, Fatima, dengan tema "Representasi dan Peran Perempuan dalam Demokrasi", pada Rabu (11/2/2026).
Kopi Parmas Part 11 ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi perempuan dalam demokrasi, serta membahas tantangan dan harapan untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam politik.
Dalam presentasinya, La Hajimu menekankan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam demokrasi, namun keterwakilan mereka masih sangat rendah. "Jantung dari demokrasi adalah peran penting pemilih dalam menyuarakan hak pilihnya," demikian ujar La Hajimu.
Lebih lanjut La Hajimu mengaskan Partai politik juga memiliki peran penting dalam meningkatkan representasi perempuan dalam politik. Mereka harus membuka ruang bagi perempuan untuk berpartisipasi dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas mereka minimal 30% keterwakilan Perempuan dalam berpolitik.
Pada kesempatan yang sama Fatimah mengurai peran Perempuan dalam politik tidak hanya tentang kuota, tapi tentang kualitas dan kapabilitas. Mereka harus memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan merumuskan kebijakan yang berdampak pada Masyarakat Potensi besar untuk meningkatkan peran perempuan dalam demokrasi.
KPU juga perlu memperkuat representasi Perempuan dengan Tantangan yang dihadapi perempuan dalam politik antara lain adalah sosial patriarki, struktur partai, dan budaya politik. Namun, ada harapan bahwa dengan pendidikan politik dan kesadaran masyarakat, perempuan dapat memainkan peran yang lebih besar dalam demokrasi, lanjut Fatimah.
Dalam konteks ini, penting bagi masyarakat untuk mendukung dan mendorong perempuan untuk berpartisipasi dalam politik, sehingga demokrasi dapat menjadi lebih inklusif dan representatif.