KPU Kabupaten Flores Timur mengikuti secara daring kegiatan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan selama bulan Ramadhan 1447 H yang dikemas dalam Program SeDap Ramadhan (Safari Demokrasi Partisipatif), TaDaRus Ramadhan (Tausiyah Demokrasi Partisipatif) dan Buka Puasa Bersama, yang diselenggarakan oleh KPU Provinsi NTT pada Jumat, (20/2). Kegiatan dibuka oleh Ketua KPU Provinsi NTT, Jemris Fointuna dan didampingi Anggota KPU Provinsi NTT Baharudin Hamzah, Lodowyk Fredrik, Elyaser Loni Rihi, Petrus Kanisius Nahak serta Plt. Sekretaris KPU Provinsi NTT. Kegiatan ini diikuti oleh Anggota KPU Kabupaten Flores Timur Arifin Atanggae selaku Kadiv Teknis Penyelenggara, Dahlya Reda Ola selaku Kadiv Hukum dan Pengawasan, didampingi Sekretaris KPU Kabupaten Flores Timur, Jermia Elia David Luase serta para Kasubbag, Pejabat Fungsional serta staf sekretariat. Dalam sambutan pembuka, Jemris menyampaikan selamat menyambut bulan suci Ramadhan bagi umat muslim dan selamat memasuki masa Prapaskah untuk umat Kristen dan selamat merayakan Imlek bagi semua yang merayakan. Dalam acara SeDap Ramadhan (Safari Demokrasi Partisipatif) dan TaDaRus (Tausiyah Demokrasi Partisipatif) merupakan dua momentum penting yang bergerak bersamaan, agar kita bergerak bersama melakukan Safari menjangkau simpul-simpul masyarakat untuk memastikan bahwa semangat partisipasi tetap bertumbuh disetiap insan masyarakat Provinsi NTT, dan Tadarus sebagai bantuk pertanggungjawaban dari pada kita semua dalam rangka memperdalam pemahaman masyarakat terhadap hak dan kewajiban politik. Pada kesempatan ini Kadiv Sosdiklih Parmas dan SDM Baharudin Hamzah menyampaikan Tausiyah. “Allah menjanjikan orang yang berpuasa dengan sempurna dia akan mendapatkan Takwa, menjadi orang yang Muttaqin. Kalau kita puasa, tahan lapar, kita diajarkan bagaimana peka terhadap kehidupan sosial kita, ada orang yang tidak makan, berhari hari bertahan karena tidak punya apa apa, sedangkan kita dengan menu makan yang begitu sangat mewah dan sangat lengkap. Kita dapat bertanya hari ini mau makan dimana. Tapi bagi kaum Dhuafa, fakir miskin yang hidupnya di tenda pengungsian, di Tenau, TPA yang tiap hari pegang kacu rebut oto pickup yang buang sampah,yang dipikirkan hanyalah hari ini mau makan apa. Disitulah esensi dari nilai puasa seseorang. Saat puasa orang banyak memberi namun sudah selesai puasa orang mulai kembali menjadi pelit, artinya puasa kita belum berhasil”, demikian Baharudin dalam sepenggal Tausiyahnya. Kegiatan ini melibatkan seluruh instrument baik dari KPU Provinsi Nusa Tenggara Timur dan juga KPU Kabupaten/Kota se-NTT.