Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Timur kembali gelar Diskusi Tematik Kita ngobrol Pemilu, Demokrasi & Partisipasi Masyarakat (KoPi ParMas) Part 12 secara daring dengan tema “Perilaku Pemilih Pemula dalam Konteks Sosial Kekinian”, Kamis (18/2).
Forum Diskusi yang dilaksanakan setiap minggunya ini, dibuka oleh Ketua KPU Provinsi NTT, Jemris Fointuna, didampingi Anggota KPU Provinsi NTT Lodowyk Fredrik, Baharudin Hamzah, dan Elyaser Lomi Rihi.
Dalam sambutannya, Jemris berharap agar semua yang hadir dapat memberikan masukkan dalam rangka meningkatkan pemahaman kita tentang demokrasi khususnya yang berkaitan dengan pola perilaku dari pemilih pemula di dalam sistem pemilu. Karena kita lebih fokus pada perilaku pemilih pemula dalam konteks bersosial khususnya bersosial media.
KoPi ParMas Part 12 ini menampilkan narasumber Petrus Paulus Juang, Anggota KPU Kabupaten Lembata Divisi Hukum dan Pengawasan dan Abdul Haris, Anggota KPU Kabupaten Manggarai Timur Divisi Sosdiklih Parmas dan SDM. Dengan Moderator, Prasasti Padmasari, Kepala Sub Bagiaan Hukum dan SDM KPU Kabupaten Sumba Tengah.
Keduanya narasumber memaparkan materi dengan tema Perilaku Pemilih Pemula dalam Konteks Sosial Kekinian. Petrus Paulus, dalam paparannya menyampaikan karakteristik pemilih pemula saat ini, dan pola perilaku pemilih pemula dalam pemilu karena pemilih pemula bisa dibilang masih menjadi pemilih yang mengambang dimana belum memiliki afiliasi politik tetap, citra gaya komunikasi, kedekatan emosional keaktifan di media sosial dan juga mempertimbangkan program kerja, dampak kebijakan langsung, relevansi dengan masa depan pemilih pemula.
Selanjutnya Abdul Haris menyampaikan Perilaku Pemilih Pemula di Era Digital, dimana media sosial merupakan sumber utama informasi politik, pemilih pemula lebih menyukai konten politik ringan dan visual menarik dan rentan dari hoax akibat rendahnya literasi digital.
Usai pemaparan materi dilanjutkan dengan dialog interaktif bersama peserta dari Kabupaten/Kota yang dipandu moderator.
Di akhir Kopi Parmas , Anggota KPU Provinsi NTT, Elyaser Lomi Rihi menyampaikan pentingnya memberikan pemahaman kepada pemilih pemula bagaimana menggunakan suara sesuai dengan hati nurani. Untuk menjaga kualitas demokrasi itu kita memberikan pemahaman kepada pemilih bahwa memberikan suara di TPS itu merupakan panggilan jiwa yang harus dilaksanakan sesuai dengan ahti nurani dan penuh tanggung jawab.
Sementara itu, Lodowyk Fredrik menekankan untuk mencermati kelakukan pemilih pemula dalam hal ini sesuai dengan konteks kepemiluan dan pilkada. Harus juga memahami konteks sosial masa lalu itu seperti apa, dengan demikian dengan secara pasti dan benar memahami konteks sosial saat ini.
Sedangkan Baharudin Hamzah menambahkan, wajah kepemimpinan kita sekarang ini lebih banyak anak muda, dan itu fakta politik yang tidak bisa dipungkiri. Untuk membentuk karateristik anak muda yang paling kuat adalah dari dalam keluarga. Intitusi keluarga adalah institusi yang paling penting bagi perkembangan anak karena anak itu ibarat kertas putih yang kemudian dicoret dari awal oleh orangtua dalam keluarga.
Kopi Parmas ini diikuti oleh Kadiv Sosdiklih Parmas dan SDM, Herman Jopi Latol, Kadiv Hukum dan Pengawasan, Dahlya Reda Ola dan Kadiv Rendatin, Stefanus Ile Ratu serta Kasubbag Hukum dan SDM, Rossa Asry bersama staf Parmas.